Primary Navigation

Sepotong Kisah

Kelam dan angin malam mempesiang diriku
menggigil juga ruang di mana dia yang kuingin
Malam bertambah merasuk, rimba jadi semati di tugu di Karet,
di Karet (daerahku yang akan datang)
sampai juga deru angin…

“Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing…”

“Tapi kau terus mencariku, karena aku tidak pernah berhasil kau miliki sepenuhnya dan tidak sanggup berpaling?”

“Kupilih kau dari yang banyak, tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring…”

“Kau sangat sekali menginginkan aku?”

“Ya”

“Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,
Kita berpeluk ciuman tiada jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan…

Rasanya bulan di atas itu seolah mau memberi tahu, saatnya kini tiba, kau dan hidupmu akan menyatu dalam hidupku…”

“Jangan!
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal,
di laut tidak bernama!”


Yang terampas dan yang putus…
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu.


di Karet, di Karet (daerahku yang akan datang) sampai juga deru angin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu,
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang.
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Dari ‘AKU’, perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar oleh Sjuman Djaya

Posted with WordPress for BlackBerry.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *