Primary Navigation

Just a Blink of an Eye

Beberapa hari ini topik pembicaraan kita diramaikan tema seputar ‘Supermoon’. Bukan hanya sekedar bulan, tetapi bulan yang luar biasa, baik dari segi ukuran, maupun keindahan sinar yang dipancarkannya. Keindahan yang dipuja banyak pasang mata yang menyaksikan fenomena alam tersebut. Tapi adakah di antara kita yang menyadari bahwa keindahan itu hanyalah semu? Semu karena bulan memang tidak memancarkan cahaya sendiri. Bulan adalah salah satu benda langit yang memantulkan cahaya matahari. Ada pulakah di antara kita yang menyadari bahwa keindahan itu hanya sementara? Sementara karena cahaya bulan akan tergantikan kilau matahari saat fajar menjelang. Sementara karena bulat sempurnanya akan menghilang seiring pergantian fase.

Begitu pula semua yang kita nikmati dalam kehidupan. Semua adalah fatamorgana yang disajikan ruang nyata yang disebut peradaban. Segala semu fatamorgana itu lantas menjadi bagian kita dalam mengapresiasi setiap nafas kehidupan. Semu itu akan berubah menjadi nyata saat kita menyadari bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Seperti halnya cahaya bulan yang akan redup, begitu pula kehidupan yang bisa terenggut. Sama halnya ketika mendung menutupi langit sehingga bulan enggan muncul, begitu pula saat sakit merenggut kebebasan gerak sehatmu.
Hidup ini hanya sementara, semua yang kita miliki akan hilang pada saatnya. Waktu selalu berlari, tak akan pernah kembali dan tak akan pernah menunggumu. Sebelum sampai pada waktumu untuk berhenti, lakukanlah yang terbaik yang bisa kau berikan dengan nyata, agar hidupmu tidak sia-sia. Perjuangkan mimpimu sekuat yang kau mampu, karena dunia terus berputar dalam sekejap mata.

Posted with WordPress for BlackBerry.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *