Primary Navigation

Wajah-wajah dalam Kereta

Mulai bulan ini, saya resmi mengubah status dari (mantan) mahasisiwi menjadi karyawati. Mengingat jarak dari Depok ke Gondangdia cukup menyita waktu dan tenaga, praktis saya beralih dari pengguna sepeda motor menjadi pengguna kereta listrik. Dan ternyata menumpang kereta listrik itu menyenangkan. Selain karena jarak tempuh yang seharusnya dua jam dengan sepeda motor bisa dipangkas menjadi satu jam saja, saya juga tidak perlu repot-repot bermacet-macet ria dengan segala polusinya.

Sebagai penumpang wanita yang menginginkan kenyamanan, saya memilih gerbong khusus wanita yang disediakan kereta listrik ekonomi ac maupun ekspress. Dan dari sanalah semua cerita dalam tulisan ini berasal. Beberapa hal yang saya amati selama hampir sebulan ini mengantarkan saya pada satu kesimpulan pribadi: wanita itu lebih egois daripada pria. (Baiklah, saya siap diamuk semua wanita yang membaca tulisan ini). Tidak bermaksud menghakimi, tetapi memang begitu kenyataan yang saya temui.

Misalnya saat hendak naik kereta, para wanita tidak segan saling sikut untuk ‘menyingkirkan’ penumpang wanita lain agar mendapatkan tempat yang paling nyaman untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan mungkin ada yang tersakiti karena tindakannya tersebut. Bahkan pernah seorang Ibu tua terdorong keluar gerbong kereta saat seorang wanita muda memaksa masuk, dan bukannya meminta maaf, wanita muda tersebut malah menertawakan kemalangan Ibu tua itu bersama teman wanitanya. Contoh lain, meskipun kereta sudah penuh sesak, para wanita tidak segan duduk di atas kursi lipatnya, membuat kapasitas penumpang menjadi semakin terbatas dan berhimpitan, meskipun sudah ada peringatan keras yang tertempel di dinding kereta bahwa dilarang menggunakan kursi lipat. Masih contoh lain, kebanyakan penumpang wanita tidak mau mengalah demi orang tua, ibu hamil atau ibu dengan anak-anak. Meskipun sudah ditegur oleh petugas gerbong, beberapa penumpang wanita bahkan akan (sengaja) ‘tertidur’ atau (pura-pura) tidak mendengar karena telinganya dijejali earphone dari pemutar musik. Yang paling nyata kerap terjadi adalah, saat seorang penumpang yang kebagian tempat duduk hendak turun di sebuah stasiun, maka banyak pasang mata akan mengawasi dan dimulailah ‘pasang badan’ untuk menggantikan posisi penumpang yang hendak turun tersebut, sehingga akan terjadi aksi rebutan yang dramatis, meskipun ada Orang tua atau Ibu hamil yang lebih layak didahulukan. Kebanyakan komentar yang saya dengar dari sesama wanita pengguna kereta adalah: “kalo’ lagi hamil atau udah tua ga kuat berdiri, mending naik di gerbong campur aja deh. Kalo’ di gerbong wanita ga bakal dikasih duduk. Pasti pura-pura tidur atau sibuk dengerin lagu semua”.

Pada dasarnya, kejadian-kejadian di atas hanya dilakukan oleh segelintir orang saja, namun sudah ‘terlanjur’ digeneralisasikan oleh masyarakat penumpang kereta listrik. Sebagai wanita, saya sangat ‘tergelitik’ dengan komentar-komentar negatif tentang hal ini. Memang tidak bisa menyalahkan wanita sepenuhnya. Kondisi jumlah rangkaian kereta yang sedikit dengan jeda waktu yang lumayan panjang sementara jumlah penumpang melebihi kapasitas, didukung pula dengan maraknya tingkat pencopetan dan pelecehan seksual di gerbong kereta ekonomi maupun gerbong campuran, tentu menjadi faktor kuat penyebab ‘krisis manusiawi’ di dalam gerbong. Tetapi ada baiknya kita melihat lagi ke dalam hati kita, masihkah ada kata ‘perduli’ di dalam situ?



Comments

  1. hahaahhaha ngakak aku bacenye lan. iye ye klo di piker” klo di ingat-ingat klo di telaah. dak bulak kao. dasar pengamat.
    isak dengar kan kata” musuh wanita adalah wanita.
    wanita berdandan supaya cantik biasanya bukan untuk menari laki-laki (lagi), tapi supaya dak kalah lagak kan wanita lain.
    wanita itu egois dan dak nak ngalah kan wanita lain.

    two thumbs up untuk ulan
    🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *