Primary Navigation

Menghapus Kenangan

Seorang teman bertanya pada saya suatu ketika. Bagaimana cara menghapus kenangan? Hmm…pertanyaan yang sulit, bahkan saya pun belum menemukan jawabannya. Pertanyaan yang patut diajukan mungkin, “Bersediakah kamu menghapus kenangan?”

Setiap orang pasti memiliki kenangan, bersama orang tua, keluarga, teman bahkan kekasih. Tidak semua kenangan itu menyenangkan. Terkadang, ada kenangan yang dirasa pahit dan menyakitkan. Tapi mungkinkah kita bisa hidup tanpa kenangan?

Saya jadi ingat sebuah film yang pernah saya tonton, berjudul “Eternal Sunshine of the Spotless Mind“. Film yang diadaptasi dari Puisi berjudul Eloisa to Abelard karya Alexander Pope ini mengisahkan tentang sepasang kekasih yang memutuskan untuk menjalani proses penghapusan kenangan masing-masing ketika hubungan mereka mulai berakhir. Yang terjadi selama proses tersebut justru sebaliknya. Kenangan-kenangan yang pernah mereka alami justru menyembul dan mengembalikan romansa diantara mereka seperti dulu.

Lalu apakah yang akan kalian lakukan jika hal tersebut terjadi pada kalian -katakanlah, kehilangan kekasih-? Apakah kalian akan terkungkung dalam kesedihan mendalam yang tiada akhir, berharap hal itu tidak pernah terjadi? Atau akankah kalian memejamkan mata dan berharap saat membuka mata kembali keajaiban akan muncul layaknya cerita dongeng yang selalu berakhir happy ending?

Come on, this is not ‘Eternal Sunshine of the Spotless Mind’. This is the real life. Just stay calm and find new things to do that will keep you busy and not think about him/her. It might take a while, but be patient and stay strong, make them wonder why you are still smiling and happy.

Hal utama yang harus kamu lakukan adalah menerima kenyataan. Memang tidak mudah meyakinkan diri sendiri bahwa hubungan yang telah dibangun harus berakhir begitu saja. Tetapi membiarkan diri sendiri terjebak dalam unrealistic fantasies bahwa suatu saat mungkin kalian akan bersama lagi, juga bukan penyelesaian terbaik. Cobalah untuk menerima dengan lapang dada fakta bahwa hubungan itu telah dipertahankan sebaik mungkin, namun sayangnya tidak bisa berjalan sebagai mana yang diharapkan. Jadikan itu sebagai chapter lama yang sudah waktunya berakhir dan mulai membuka chapter baru lagi yang penuh dengan warna kehidupan baru.

Bagi sebagian besar orang, menjalani kehidupan after break up sama halnya bersahabat dengan a very painful time, terutama jika kamu adalah orang yang got dumped. Bayangan indah bahwa he/she and you are being together seketika pupus and the next thing you know, he/she just left you away. Tidak perduli sekuat apapun kamu mencoba untuk melupakan bahwa hal itu tidak pernah terjadi, itu akan selalu tidak pernah tidak terjadi. It just…ended. Kamu lantas akan berusaha untuk menghapus kenangan perpisahan itu dari kepalamu. But, deep inside your heart, I doubt you want to erase the role that memory plays in your life. Semakin kuat kamu berusaha menghapusnya dari ingatanmu, semakin kuat pula kenangan tentangnya tertanam di hatimu. Pada akhirnya, kamu harus mengakui satu kalimat, I can’t erase you.

Beberapa orang menanggapi patah hati dengan ‘mengalihkan’ perhatian pada orang lain yang ‘diyakini’ dapat membantu melupakan kesedihan karena ditinggalkan. Tapi yakinkah kalian hal itu akan berhasil memulihkan hati yang terluka? Yakinkah kalian hal itu tidak akan menambah daftar baru hati yang terluka lainnya? Mungkin ada juga sebagian orang lainnya yang merasa patah hati merupakan ‘akhir dunia’, sehingga menolak untuk membuka hati lagi. Bagi mereka, memulai sesuatu yang baru, sama saja dengan menapak di jalan terjal yang sama, penuh rintangan dan masih menakutkan, so they force theirself not to want it.

Cara terbaik untuk pemulihan akibat patah hati adalah mulai dengan fokus pada dirimu sendiri. Manfaatkan waktu untuk mengenal dirimu lagi sebelum kamu memulai hubungan baru dengan orang lain. Ketahui lebih dalam apa yang benar-benar kamu inginkan dan apa yang pantas kamu dapatkan. Pahami apa yang mungkin bisa kamu berikan pada orang lain dalam hubungan baru yang akan kamu jalankan. Saat kamu sudah yakin dengan apa yang ingin kamu beri dan terima dalam suatu hubungan, saat itulah kamu siap untuk mulai menemukan a new partner who will suit you well.

Lalu kembali ke pertanyaan awal. Bersediakah kamu menghapus kenangan? Apabila pertanyaan itu ditujukan kepada saya, dengan tegas saya akan menjawab tidak. Kenangan merupakan harta berharga yang tersimpan dalam kotak memori kita. Dengan kenangan, kita memiliki pengalaman beragam yang tidak bisa sama didapatkan  oleh semua orang. Kenangan yang menyakitkan malah kadang justru menjadi ‘senjata’ yang mampu menguatkan. Biarkan saja kenangan itu, bagaimanapun bentuknya, tersimpan dan bertumbuh bersamamu. Manfaatkan kelebihan-kelebihan yang dikandung kenangan tersebut untuk dijadikan pembelajaran dalam menghadapi kasus serupa yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Akan ada masanya kamu  mengenangnya, tersenyum, dan mengakui, “Saya beruntung pernah mengenalmu“.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *